Selasa, 23 Februari 2010

Friedrich Nietzsche


A.  Riwayat Hidup Singkat

Friedrich Nietzsche lahir di Roken Jerman pada tahun 1844, lahir di lingkungan keluarga Kirten yang taat. Ayahnya seorang pendeta terkemuka dengan garis kependetaan yang terwaris dari turun-temurun dari keluarga ayahnya. Kakeknya adalah pendeta gereja Lutheran yang menduduki jabatan cukup tinggi, sementara Ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat. Nietzsche menjadi anak yatim pada saat usianya lima tahun, ibu dan neneknya,  kakak-kakak wanita serta tantenyalah yang memelihara dan mendidiknya. Dalam lingkungan keluarga penuh kehalusan dan kasih sayang itulah tumbuh seperti “pendeta cilik’ yang menghormati keteraturan, kerapihan dan kejujuran. Ia membenci teman-temannya yang nakal, suka mencuri serta merusak milik orang lain.
Nietzsche  semasa kecil mengikuti tradisi keluarga sebagai seorang anak yang taat  pada agama, pendiam, kutu buku sehingga   ia dijuluki sebagai “minister” atau pendeta tinggi oleh teman-temannya. Nietzsche sesungguhnya memiliki perhatian yang besar terhadap masalah  filsafat ketuhanan, akan tetapi akhirnya ia justru  melakukan pemberontakan terhadap tradisi yang dipegang teguh oleh keluarganya.
Di Universitas ia dikenal sebagai seorang peminat seni klasik dan mahasiswa filologi. Pada masa usuainya 18 tahun ia mulai kehilangan kepercayaannya pada Agama Kristen dan mulai mencari Tuhan dan kepercayaan baru. Sejalan dengan itu gaya hidupnya pun berobah total ia mulai hidup bebas, tidak beraturan, pesta pora, mabuk-mabukan, memuaskan hasrat seksualnya. Kemudian pandangan dan gaya hidupnya berubah lagi menjadi seorang yang membenci pesta, wanita, anggur dan tembakau. Dalam satu ungkapannya ia mengatakan bahwa” orang yang minum bir dan menghisap tembakau tidak memiliki pandangan yang jernih dan pemikiran yang mendalam”.
Tahun 1865 ia menemukan dan membeli buku Schopenhauer, Die Welt als Wille und Vorstellung, (1818) atau The World as Will and Idea ( Dunia sebagai Kehendak dan Ide). Buku ini memberi semangatnya dan dorongan luar biasa baginya untuk melakukan petualangan/ekspresikan pemikiran yang hasilnya spektakuler, menggemparkan orang-orang di masanya. Pada usia 23 tahun ia bergabung dengan tentara untuk ikut berperang. Pengalaman singkat itu membuatnya mengagumi kehidupan  yang sangat keras, namun karena kesehatannya yang tidak mendukung, ia akhirnya kembali ke dunia ilmiah dan akademik. Pada tahun tahun 1869, waktu ia berusia 25 tahun ia ditawari menjadi guru besar filologi di Universitas Basel Swiss dan ia menerima tawaran ini. Di sini ia bergaul dengan Richard Wagner seorang komponis yang masyhur dan sangat dikagumi Nietzsche. Persahabatannya dengan Wagner serta isterinya Cosima tidak berlangsung lama, karena ia kemudian membenci Wagner yang dianggapnya tetap menjunjung tinggi agama seperti perubahan dalam tema karya seninya). 
      Pada tahun 1879 Nietzsche terpaksa pensiun karena ia selalu sakit-sakitan, lalu ia pindah ke Swis. Pada masa pengembaraannya antara athun 1879-1888, ia menghasilkan karya-karyanya yang ternyata menggemparkan dunia pemikiran sampai saat ini. Di antara karyanya adalah:  The Birth of Tragedy (1872),   Human All, to Human (1878-1890), The Dawn of Day (1881), The Joyful Wisdom (1882), Also Sprach Zarathustra (Thus Spake Zarathustra (1883), Jenseits von gut und bose (antara baik Dan Jahat) , (1886), Zur Genealogy of Moral  (The Genealogy of Morals) (1887). The Anti-Crist (1888),  The Will to Power, diterbitkan anumerta, (1910).  Buku ini umumnya ditulis pada masa ia berkelana untuk mengobati berbagai penyakit yang dideritanya. Saat ia merasa terkucil dan putus asa, justru semangat dan jiwa pembrontakannya berkobar-kobar. Buku-buku ini dirasa unik ditulis dalam bentuk aforisme-puitis, serta penegasan-penegasan ironis diungkapkan dalam bentuk di antara majas dan harfiah sehingga sering kontradiktoris dan membingungkan. Zarathustra salah satu bukunya yang membawanya terkenal, melalui buku ini ia menyampaikan dua gagasan utamanya “manusia unggul” dan “pengulangan abadi”. Pada tahun 1888 tingkah lakunya terlihat semakin aneh, dari hasil diagnosa dokter ia dinyatakan gila, selama ia sakit sampai kematiannya tahun 1900, ia dirawat saudarinya Elizabeth. Elizabet juga berhasil menyunting tulisan-tulisan Nietzsche menjadi propaganda anti-Semit yang kasar.

B. Latar Belakang Pemikiran Nietzsche

Nietzsche adalah seorang filsuf penting, karena dialah yang pertama kali menyadari apa sesungguhnya arti ‘modern’ bagi masyarakat Eropa Barat. Ia juga melihat betapa nilai-nilai dan kepercayaan Kristen yang telah berkembang selama dua ribu tahun akan segera berakhir, hilangnya kepercayaan ini berarti bahwa kehidupan individual kita tidak bermakna lagi. Konsekwensi yang paling buruk dari hilangnya kepercayaan itu adalah  semua nilai-nilai terpenting dalam pemikiran Barat, dianggap hanyalah berupa ‘metafisika’ yang tidak memiliki landansan. Bagi Nietzsche situasi atau fakta yang mengguncang ini harus dihadapi secara jujur (Robinson, 2002: 1). Nietzsche menganggap dirinya sebagai nabi baru dan beranggapan bahwa pemikirannya lahir terlalu awal,  sehingga pemikiran-pemikirannya tidak dapat difahami generasi pada masa hidupnya. Kini banyak pemikir-pemikir Barat yang menyebutnya sebagai inspirator utama bagi gerakan yang disebut dengan postmodern.
Dari hasil penelitian terhadap pemikiran Nietzsche, diasumsikan bahwa pemikirannya telah dipengaruhi oleh pemikiran Yunani klasik Anaximandros, Heracleitos, Stoa, Sofis, Democritos, Epikurus, serta pengaruh dari sumber-sumber filsafat Iran dan pemikiran Idealisme Jerman. Nietzsche berbicara tentang berbagai macam hal secara bebas tanpa batas. Tulisannya sering kontradiktoris serta dikemukakan bukan dalam pernyataan ilmiah akan tetapi dalam bentuk metafor dan ironi.Bentuk  pemaparan pemikiran dengan metafor, ironi dan aphorisme pada akhirnya membuka kesempatan berbagai interpretasi. Pemikiran Nietzsche memiliki banyak persamaan dengan Heracleitos, ia dianggap menerapkan  gaya berfilsafat baru (aphorisme) serta kritik tajam pada pandangan keagamaan waktu itu. Konsep Heracleitos tentang segalanya dalam perubahan atau “menjadi” (panta rhei) salah satu konsep penting yang diambil oleh Nietzsche dengan mengubahnya menjadi konsep “kembalinya segala sesuatu secara abadi”
 Nietzsche tidak menyukai pemikiran Pithagoras, apalagi Socrates yang dianggapnya terlalu merendahkan diri dengan menyebut dirinya sebagai orang awam  (roturier) yang tidak tahu apa-apa. Socrates dianggapnya sebagai perusak moral  luhur pemuda Atena dengan moral demokratiknya, yang oleh Nietzsxche dianggap sebagai moral budak seperti yang ia kemukakan dalam berbagai bukunya (Russell, 2002: 970).Plato juga tidak lepas dari kritik Nietzsche juga dianggap sebagai filsuf yang tidak memiliki keutamaan, filsafatnya hanya sekedar mencapur-aduk (philosophos hybrides) sebelumnya  saja. Untuk menghindari moral budak, tentu saja ia tidak suka dengan pemikiran Kant yang dituduhnya sok moralis, ia tidak juga suka dengan pemikiran fanatisme moral seperti Rousseau. Filsafat Politik Nietzsche sejalan dengan pemikiran The Prince-nya Machiavelli. Keduanya sama-sama anti Kristen dan sama-sama mengangungkan kekuasaan. Ia secara terus terang menyukai apa yang selama ini dianggap orang-orang buruk dari pada yang baik. Bukunya Beyond Good and Evil, bertujuan untuk mengubah cara berpikir orang tentang apa yang dikatakan baik dan buruk selama ini.
Ketika Nietsche hidup  abad XIX, filsafat atau Idealisme Jerman  pemikiran  yang menguasai saat itu, ia terpengaruh oleh pemikiran idealisme Jerman itu, namun  gagasan romantisisme Arthur Schoupenhauer lebih mempengaruhinya Nietzsche secara mendalam (1788-1860). Selain itu ia dipengaruhi oleh  Wagner, David Hume, Immanuel Kant,  dan Kierkegaard, namun dari berbagai pengaruh itu, ia tetap dapat menunjukkan bahwa pemikiran-pemikirannya tetap orisinal. Pemikiran Schopenhauer mempengaruhi Nietzsche melalui buku, Die Welt als Wille und Vorstellung, (1818) atau The World as Will and Idea ( Dunia sebagai Kehendak dan Ide), yang dibaca Nietsche dengan serius. Buku yang dibelinya dari tukung loak itu begitu membekas dalam pemikiran Nietzsche. Buku ini telah memantapkan keraguan Nietzsche tarhadap agama Kristen menjadi bentuk ateisme dengan serangan-serangan dahsyat bagi keyakinannya semula. Schoupenhauer adalah permikir yang pesimistis, pemikirannya unik tidak sepenuhnya akademik akan tetapi tidak pula sepenuhnya di luar itu. Bagi Schoupenhauer penderitaan adalah esensial bagi kehidupan  dan penderitaan itu ditingkatkan oleh setiap peningkatan pengetahuan. Penyebab penderitaan itu adalah intensitas kehendak, semakin kurang kita memberi ruang bagi kehendak, semakin kita kurang menderita.
Schoupenhaauer tidak menyukai Agama Kristen, sebaliknya menyukai agama Hindu dan Buddha serta sangat meminati seni dan etika.. Schopenhauer adalah filsuf aliran romantis yang terkenal.  mengemukakan tentang  kehendak untuk hidup (vitalisme) sebagai unsur filsafatnya yang penting. Realitas mutlak bagi Schopenhauer adalah kehendak, yang nyata adalah kemauan atau “kehendak” besar yang tampak dalam kejadian alam, baik makhluk hidup atau tidak (Russel, 2002; 182-83). Ada yang menafsirkan bahwa kehendak kosmiknya Schopenhauer sebagai Tuhan, pandangan ini  mirip dengan panteisme Spinoza.
Nietszche mengakui bahwa ia pelanjut pemikiran Schopenhauer, namun pemikirannya lebih luas, radikal dan lebih terkenal. Bagi Nietszche vitalitas itu sendiri adalah arti kehidupan dan menerima kehidupan merupakan kesimpulan filsafat. Dari konsep inilah ia mengajukan konsep “Kehendak untuk berkuasa” yang semula diharapkannya akan diwujudkannya dalam karya terbesarnya yang ternyata tidak terwujud. Baginya hidup adalah perjuangan  untuk mencapai eksitensi dan orang-orang yang berani dan  kuatlah yang berhak untuk terus melangsungkan kehidupan (bandingkan dengan teori evolusi Darwin). Bagi Nietzsche manusia yang baik adalah manusia yang keras, angkuh, berani, mengakuti insting dan nafsunya serta tidak memperdulikan orang lain.
 Kekuatan adalah kebajikan yang utama sementara kelemahan adalah keburukan yang memalukan. Maka yang baik adalah orang-orang yang mampu melangsungkan kehidupannya,  orang-orang yang berjaya dan menang. Sementara itu yang buruk adalah orang-orang  yang terpuruk, kalah dan terpinggirkan. Hidup adalah medan laga, tempat seluruh makhluk bertarung agar bisa terus hidup. Dalam pertarungan yang kita sebut hidup itu, kita tidak memerlukan kebaikan akan tertapi kekuatan. Yang dibutuhkan dalam hidup juga bukanlah kerendahan hati, melainkan kebanggaan diri, bukan altruisme akan tetapi kecerdasan yang tajam. Hukum kehidupan bukanlah hukum yang dibuat manusia, akan tetapi hukum yang dibuat oleh alam. Tuntutan kesamaan hidup dan demokrasi sesungguhnya  bertentangan dengan seleksi alam untuk kelangsungan hidup dan di samping itupun keadilan bertentangan dengan kekuasaan. Karena semua itulah yang akan menjadi wasit yang paling adil untuk menentukan siapa yang bisa bertahan untuk hidup.
Pertarungan hidup, kehendak untuk berkuasa yang ia ajukan seakan-akan suatu perlawanan keras terhadap pengalaman hidupnya yang sering dilanda rasa putus asa menghadapi kenyataan hidupnya yang diserang berbagai penyakit, sulit tidur, hampir buta,  bahkan diakhir hidupnya ia menjadi gila. Setelah tahun 1870 ia meninggalkan jabatannya sebagai dosen. Lalu ia berkelana di Eropa untuk mencari penyembuhan penyakitnya, akan tetapi usahanya tidak berhasil sampai ajal menjemputnya. Melalui Wagner seorang sastrawan dan dramawan terkenal yang seangkatan dengan Nietzche, ia mangambil konsep seni Yunani  tentang seni Apollonian dan Dionysian yang diangkat Wagner (pengikut Schoupenhauer) dalam karya seninya.
Berdasarkan kategori Dyonisisan-Apollonian, Nietzsche mengemukakan bahwa paradaban Yunani, muncul dari semangat Dyonisian (alamiah dan anarkhis) sementara semangat Apollonian berdasarkan prinsip ketaruran, hukum dan moderasi lebih membawa pada kemunduran. Dionysius adalah tokoh yang dikemukakan Nietszche untuk revolusi melawan sejarah bentuk-bentuk Kristen dan Pasca-Kristennya. Nietzsche sebagai murid Dyonisius yang anti Kristus sangat berminat mengatasi kesejarahan kehidupan modern: yang sebagian disebabkan penekanan Yudeo-Kristiani terhadap  narasi dan sejarah. Nietszche antikristus karena ia menolak narasi dunia yang berpusat pada penyaliban, sebuah peristiwa historis yang sentral dalam ajaran agama itu. Sejarah dianggap bermakna sejauh peristiwa penyaliban dianggap bermakna, sejauh peristiwa itu memberi sumbangan pada narasi penebusan agung (Levin, 2002: 168-169).
      Melalui musik dan drama Wagner dianggap mampu mengangkat tragedi Yunani dengan sangat menarik dengan dibumbui oleh unsur-unsur/sisi gelap manusia. Sisi-sisi gelap manusia inilah yang menurut Nietzsche merupakan sifat dasar (hakekat) kemanusiaan Apollonian dan Dionysian (bandingkan dengan Freud).   Ketika Wagner mementaskan Parsifal, Nietzsche mengemukakan kemuakannya pada Wagner, karena menurut Nietzsche telah meninggalkan unsur Dionysian dalam karyanya dan lalu kemudian berdamai dengan Tuhan dengan menampilkan nilai-nilai kebaikan atau karya yang  bersifat Apollonian.  Meskipun Nietzsche memutuskan persahabatannya dengan Wagner, akan tetapi pengaruh Wagner (Schopenhauerian)  seorang kritikus  teorikus terhadap sejarah optimistik kontemporer telah mempengaruhi  pemikiran Nietzsche begitu mendalam, sehingga tidak dapat dilepaskannya.
 The Birth of Tragedy (1872) adalah buku pertama Nietzsche yang ia persembahkan untuk Wagner. Pengaruh Wagner ini berpadu dengan rasa ketidak puasan Nietzsche terhadap gaya pemikiran para dosen dan koleganya serta pandangan dunia historis yang kering dan tidak imajinatif. Nietzsche kemudian mulai mengritik kebiasaan orang-orang Eropa modern dengan menyatakan, “orang-orang modern tidak ada apa-apanya kecuali ilusi” tulis Nietzsche. (Levin, 2002, 134). Buku-bukunya yang terbit selanjutnya umumnya mengkritik peradaban Barat seperti buku, Human All to Human (1878).
Nietzsche beranggapan bahwa peradaban Barat modern adalah peradaban yang sakit, mengidap racun Kristen dan nihilisme,  Nietzsche merasa membawa misi penyembuhan penyakit itu. Seperti Kierkegaard ia menekankan autensitas, oleh Kierkegaard autensitas diartikan sebagai diri  yang dipilih secara pribadi, yang dibedakannya dengan identitas publik atau “kawanan”. Konsep autensitas Kierkergaard ini diterima oleh Nietzsche dengan menyamakan identitas massa atau kawanan di Barat saat itu sebagai moral budak. Jika Kierkergaard membedakan antara ‘eksistensi autentik’ dengan ‘eksistensi sosial’ saja, maka Nietzsche menyerang orang-orang yang tidak mampu menentukan sikap/diri sendiri, ia menyerang manusia  “kawanan” (the herd) yang diidentikkannya dengan manusia bermoral budak (herden moral). Moralitas budak adalah moralitas kawanan, orang yang selalu mengikuti kelompok, tidak berani bertindak/bersikap sendiri, orang membutuhkan pujian dan takut teguran/cacian.
Semua anjuran/ajaran untuk membantu orang-orang lemah, seperti yang terkandung dalam agama, ideologi, gerakan demokrasi, sosialisme, teori hukum publik, bahkan pada liberalisme dan kapitalisme sekalipun dianggap sebagai moralitas budak yang menjadi musuh kehidupan, ajaran ini harus ditantang untuk mencapai manusia unggul. Bagi Nietzsche orang-orang yang masih menerima nilai-nilai Kriten tidak autentik, hal yang sama juga terjadi bagi orang-orang yang telah mengantikan imannya dengan pemujaan terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan (saintisme). Masyarakat modern yang terlalu sekuler, tanpa nilai-nilai membawa pada nihilisme dan pesimisme yang mengerikan. Meskipun Nietzsche dianngap sebagai pencetus nihilisme Dan pesimisme, namun ia menyadari bahwa peradaban yang tidak memiliki sesuatu yang diyakini akan ambruk. Untuk mengatasi bahaya yang mengancam ini Nietzsche memiliki model ideal yaitu masa Yunani kuno dengan segudang pemikirnya yang mandiri, bebas dan tidak terpengaruh oleh aturan (konvensi-konvensi), ( Robinson, 2002: 6, Russell & Russell, 1964:79).
Ia lebih menghormati pemikir pra-Socrates daripada Socrates, Plato, dan Aristoteles. Alasannya adalah mereka lebih bermartabat, bebas,  imajinatif dan penuh gairah. Sementara para filsuf yang lahir sesudahnya percaya pada berbagai macam moralitas mutlak, percaya pada kekekalan jiwa, pada realitas transenden, serta pada kekuatan rasio manusia. Filsafat Atena menurut Nietzsche melemahkan peradaban Barat, mempersiapkan datangnya Kristianitas, yang kelak (pada masa modern) akan menimbulkan bencana yang lebih besar. Manusia modern menurut Nietzsche terlalu mengagungkan  sifat ‘Apollinian’ dengan mengorbankan kualitas ‘Dyonisian’. Sebenarnya keduanya sama penting bagi jiwa manusia, akan tetapi intelek Apollonian yang terdisiplinkan, menyingkirkan dimensi ‘Dyonisian’. Menjadi Dyonisian berarti hidup dengan  berani, bebas, autentik, serta berani menerima tantangan hidup bagaimanapun adanya dengan riang, bergairah, dan berani menyatakan “ya” pada kehidupan itu.
Filsafat Nietzsche menunjukkan kekagumannya pada filsuf pra-Socrates, ia    menyimpulkan bahwa dalam masyarakat yang memiliki kekuatan akan mendapat penghargaan dan yang lemah  akan dikalahkan dan dipinggirkan ke luar dari arena. Kehendak untuk berkuasa  Nietzsche menunjukkan ini, kehendak untuk berkuasa itu lebih  menekankan peran optimal  individual dan bukan sosial. Cara berpikir model Kristanitas sudah muncul pada Socrates yang mendorong keyakinan pada kekekalan jiwa dan kebenaran mutlak. Ajaran Socrates dan Plato ini kemudian berbaur dengan teologi Kristen yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran zaman Pencerahan (modern) seperti yang dilakukan Descartes yang mencoba membuktikan ekisitensi jiwa yang kekal serta kebenaran ilmu pengetahuan yang kekal pada matematika dan ilmu pengetahuan yang menggunakan metode model matematika itu. Kant kemudian mengemukakan tentang eksistensi ‘dunia noumenal’ (das Ding-an-sich) yang lebih unggul yang tidak mampu diraih oleh kemampuan indra manusia. Menurut Nietzsche para filsuf telah membodohi diri mereka sendiri dan masyarakat Barat dengan mempercayaai adanya kebenaran pengetahuan yang mutlak dan paripurna. Neizsche bertekad untuk menghabisi kepercayaan filosofis seperti ini, dengan mendekonstruksi Filsafat Barat Modern itu, hal ini juga dilakukan noe-Nitzschean  (Derrida, Foucault, Rorty) yang dikenal sebagai  postmodernis radikal. Dekonstruksi Nietzsche atas filsafat dan nilai-nilai Barat itu dikemukakannya melalui beberapa pemikirannya antara lain: “Tuhan sudah mati”, “nihilisme”,  “Kembalinya segala sesuatu”, “manusia unggul”, “Kehendak untuk berkuasa”.

1. Tuhan Sudah Mati
 Gilles Deleuze dalam buku, Filsafat Nietzsche (2002) mengemukakan bahwa frasa Nietzsche yang terkenal “Tuhan telah mati” sebagai salah satu pernyataan yang paling dikenal dari pemikiran Nietzsche. Sikap anti pada filsafat transenden, anti pada kepercayaan kebenaran mengatasi dunia fenomenal adalah salah satu pengaruh dari pemikiran Schoupenhauer yang dirumuskannya dalam bentuk yang lebih radikal dengan pernyataannya tentang kematian tuhan. Meskipun Schuopenhauer menolak kepercayaan pada suatu yang transenden, ia kemudian mengemukakan kepercayaan transenden lain dengan menyatakan, bahwa hanya ada satu kepercayaan yang pasti ‘di balik’ dunia fenomenal kita yaitu pertarungan terus-menerus yang penuh ‘gairah’ atau ‘Kehendak’. Nietzsche kemudian mengambil konsep ini, akan tetapi dengan mengemukakan “Kehendak untuk berkuasa’ sebagai prinsip dasar realitas
Dalam tulisan-tulisannya Nietzsche seakan-akan menghabiskan semua kemampuannya untuk menyerang kepercayaan suci agama Kristen. Dalam The Antichrist (1895)  ia menulis, The greatest recent-that God is dead, that the belief in the Christian  God has become unbelievable…” (Netzsche, 1965: 477). Selanjutnya dalam buku Beyond Good and Evil, ia mengemukakan, “From the strart, the Christian faith is a sacrifice: a sacrifice of all freedom, allpride, all self-confidence of the spirit; at the same time, enslavement and self-mockery, self-mutilation”. Sejak semula kepercayaan Kritiani adalah pengorbanan sebuah pengorbanan dari segenap kebebasan, segenap harga diri dalam jiwa, dan pada saat bersamaan, memperbudak diri serta mengejek diri sendiri, mengebiri diri sendiri (Nietzsche, 1989: 250). Pernyataan lain dalam The Will to Power Nietzsche mengemukakan, I regard Cristianity as the most fate seductive lie that has yet existed, as the great unholy lie…”. Aku menghargai Kristianitas sebagai kebohongan menggairahkan paling fatal yang pernah ada, sebagai satu kebohongan tak suci yang terbesar…” (Nietzsche,1968, 117).
Puncak serangan Nietzsche itu akhirnya ia tunjukkan dengan pernyataannya yang paling terkenal “Tuhan telah mati” (God is dead).  Dengan kematian Tuhan ia berharap terbuka ruang kebebasan bagi manusia, terbuka pula  pengembangan potensi manusia secara penuh. Konsep kematian Tuhan memiliki tiga arti yang berbeda: 1) dari sudut pandang nihilisme negatif, ini berarti momentum Yudaisme dan kesadaran Kristen. 2) Dilihat dari sudut nihilisme aktif, pernyataan ini merupakan momentum kesadaran Eropa. 3) Dari sudut pandang nihilisme pasif, ia justru merupakan kesadaran Buddha. Deleuze mengatakan bahwa Nietzsche pada saat yang sama menyatakan “Tuhan telah menjadi manusia dan Manusia telah menjadi Tuhan” (Deleuze: 2002: 214). Bisa diartikan bahwa manusia telah mempertuhankan dirinya, dan sebaliknya mereduksi makna tuhan menjadi sama dengan manusia. Deleuze setuju dengan pandangan umum yang menyatakan bahwa pernyataan Nietzsche itu sebagai bukti “ateisme” Nietzsche.
Nietzsche adalah seorang pemikir Jerman yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pemikir yang terlalu awal lahir, sehingga pemikiran-pemikirannya  tidak dikenal orang-orang di masa hidupnya. Ia dianggap sebagai seorang pemikir besar yang dianggap secara tegas menyatakan ateismenya secara radikal. Tuduhan ateisme pada Nietszche disebabkan serangan-serangan tajamnya pada agama Kristen serta pernyataannya tentang “Tuhan sudah mati” dan yang membunuhnya adalah manusia sendiri. Gagasan kematian Tuhan disampaikan Nietzsche melalui bukunya The Gay Science  (Die Frohliche Wissenschaft) yang disampaikan melalui aforisme “Orang gila” dan pernyataan Zarathustra. Kisah orang gila mengisahkan  seorang yang mencari Tuhan dengan membawa obor yang menyala di siang bolong. Di semua tempat yang ia lalui ia bertanya pada orang  “dimana Tuhan?” Orang-orang yang mengerumuni Zarathustra, menuduhnya orang gila, akan tetapi ia menyatakan bahwa ia benar-benar mencari Tuhan. Aku telah mencari Tuhan dimana-mana, tapi aku sudah tidak menemuinya. Aku ingin menyatakan pada kalian bahwa, “Tuhan sudah mati, Tuhan terus mati, dan kita semua telah membunuhnya” (Gott ist tot! Gott bleib tot! Und wir haben ihn getotet!) (lihat Aforisme nomor 125: 95-96, Nietzsche, 1990: 181-182)).
Pengertian Tuhan sudah mati yang dikemukakan Nietzsche sering ditafsirkan beragam: Ada yang mengekukakan sebagai kritiknya terhadap modernitas/kebudayaan modern; Kritik terhadap ilmu pengetahuan (tuhan) zaman modern; Kritik terhadap rasionalitas; serta kritik terhadap seni dan moral. “Tuhan mati” bisa juga berarti tuhan yang diciptakan manusia sendiri yang dinyatakan sebagai sumber nilai-nilai. Ada juga yang mengartikan bahwa pernyataan Nietzsche itu, sebagai satu ramalan akan munculnya zaman modern (abad XX) di mana manusia Barat tidak lagi mempercayai Tuhan. Sehingga tidak ada lagi bukti kepercayaan itu dalam kehidupan keseharian mereka. Jelas sekali bagi Nietzsche bahwa kepercayaan agama Kristen irrasional (tidak masuk akal) sedangkan moralitas yang muncul dari agama itu menindas dan menyebabkan orang bersifat lemah. Itulah yang kemudian disebutnya dengan moralitas budak. Karena itu pernyatannya tentang kematian Tuhan, sebagai satu serangan pada sikap hipokrit kaum beragama, serangan terhadap basis kepercayaan dan moralitas budak tersebut. (Kaufmann, 1974: 350).
Ada beberapa pengertian ateisme itu. Pertama dimaksudkan pada orang-orang yang menyangkal adanya Tuhan seperti yang dikemukakan Encyclopedia Americana “The denial of the existence of a God” (1964: 492).Term ini digunakan kaum teis untuk menyerang dan menyudutkan posisi orang-orang yang tidak mengakui kepercayaan pada Tuhan mereka. Orang-orang Yunani menuduh orang Kristen ateis karena tidak percaya pada agama mereka demikian pula sebaliknya. Ateisme dapat juga berarti “ tidak mengakui atau menegasi eksistensi Tuhan” (disbelief in, or denial, the existence of a God” (Oxford Dictionary). Konsep Nietzsche tentang kematian Tuhan dianggap sebagai konsep filsafat utamanya yang berkaitan dengan konsep-konsepnya  yang lain.
Nietzsche menganggap bahwa kepercayaan manusia Barat pada Tuhanlah yang merupakan pangkal semua masalah kemunduran dan taglid buta masyarakat. Dengan mematikan Tuhan Nietzsche berharap dapat menjadikan manusia sebagai manusia unggul yang menentukan segalanya berdasarkan kemauannyanya sendiri. Setelah membunuh Tuhan maka akan timbul kekosongan nilai-nilai universal yang berlaku, kondisi kekosongan inilah yang disebut Nietzsche dengan nihilisme. Untuk mengubah kondisi kekosongan nilai-nilai itu diperlukan keberanian untuk menjadikan semua potensi dan kemampuan manusia untuk mengatasi semua keterbatasannya. Potensi dan semua kemampuan manusia yang ada di dalam dirinya itulah yang disebut Nietzsche dengan Ubermensch.  Kepercayaan pada Tuhan dalam pandangan Nietzsche bertentangan dengan konsep manusia yang sebenarnya,  karena menunjukkan kelemahan manusia itu. Manusia terdiri dari badan dan jiwa, badan berproses menurut hukum biologis, sementara jiwa hanyalah sebuah nama yang terdapat dalam badan manusia (Zarathustra dalam The Philosophy of Nietzsche, 1954: 907). Dalam pandangan Nietzsche Tuhan yang digambarkan hanyalah  proyeksi kesadaran manusia terhadap, kekuatan atau cinta di dalam dirinya.

2. Nihilisme

 Dasar pemikiran nihilisme Nietzsche dapat kita lihat sebagai konsekwensi dari pemikirannya tentang “Tuhan sudah mati” dengan kritik radikalnya terhadap “historisisme” yang diperolehnya dari penelitiannya terhadap budaya klasik. Nihilisme menurut Nietzsche baru benar-benar tercipta setelah “Tuhan telah mati”. Karena kematian tuhan menghapus semua nilai-nilai yang tertinggi atau “nama yang tersuci”. Nihilisme Nietszche sejalan dengan konsep ‘kematian Tuhan’ yang dikemukakannnya. Pandangan nihilisme ini juga terdapat hampir pada semua tulisannya, dan secara khusus dibahasnya pada buku The Will to Power (Der Wille zur Macht). Nietzsche mengartikan nihilisme sebagai nilai tertinggi yang mereduksi nilainya sendiri, yang tidak memiliki tujuan dan alasan apa-apa ( What does nihilism mean? That the higest values devaluate themselves. The aim is laking; “why” finds no answer” (Nietzsche Wil to : 9).
Nihilisme dengan demikian dapat diartikan sebagai ketiadaan makna. Pandangan ini terkait dengan pandangan  serta penolakan Nietzsche pada nilai-nilia absolut, karena itu yang ada adalah kekosongan nilai-nilai. Pandanga nihilisme Nietzsche adalah nihilisme yang sangat ekstrem. Tidak ada sesuatu yang benar, segalanya diperbolehkan (Nich ist wahr, alles ist erlaubt) (Geneallogy, 1996: 121), sehingga pernyataan dan pengakuan akan kebenaran dalam pandangan Nietzsche adalah palsu. Kritik Nietzsche terhadap historisime ia peroleh dari hasil penelitiannya terhadap budaya-budaya klasik dan modern. Dengan memahami masa lalu ia beranggapan bahwa ia dapat mengatasi sejarawan modern dengan menaikkan pemikirannya pada pemikiran suprahistoris, dimana semua norma-norma yang muncul semata-mata bersifat lokal dan kontingen. Dengan demikian ia menganggap bahwa semua nilai-nilai hanyalah produk budaya lokal.
Lalu bagaimana manusia menghadapi kekosongan nilai itu? Apakah manusia bersifat pasif? Nietzsche menolak sikap menyerah dan tidak menunjukkan kekuatan atau semangat untuk berkuasa. Mengatasi nihilisme itu manusia harus menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan mengadakan pembalikan nilai-nilia (transvaluation of all values), pembalikan nilai-nilai ini sebagai bukti kekuatan semangat untuk menjadi manusia unggul.
Nihilisme merasa bahwa hanya ada satu kebenaran untuk dinyatakan, yaitu berlakunya ketiadaan mutlak dan dunia tanpa makna. Helmut Thielichke menyatakan itu dalam buku Nihilsm : Its Origin and Nature, with a Christian Answer (1969) menyatakan bahwa nihilisme pada abad XX di Barat tetap diterima, dalam pandangan seorang nihilis hidup ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan masalah moral. Deleuze menyatakan bahwa kaum nihilis adalah penyangkal Tuhan yang baik, bahkan kebenaran semua yang adikodrati. Tidak ada yang benar, tidak ada yang baik, Tuhan telah mati (Deleuze, 2002: 208). Kematian tuhan yang dikemukakan Nietsche sesungguhnya lebih bersifat anti Kristiani dari pada gagasan ateisme. Konsep kematian Tuhan terkadang ditafsirkan sebagai cara baru dalam konsep keberagamaan atau konsep ketuhanan yang berbeda dengan pandangan Kristiani.

3.  Kembalinya Segala Sesuatu

Ada dua konsep penting yang dikemukakan Nietzsche malalui buku, Thus Spake Zarathustra (1884) yaitu: “Kembalinya segala sesuatu” (eternal recurrence of the same)  atau “pengulanagn abadi” serta Uberbermensch (Overman, superman). Konsep “eternal recurrence of the same” atau “Kembalinya segala sesuatu” secara abadi termasuk konsep Nietzsche yang penting. Konsep perulangan secara abadi ini mungkin diambil Nietzsche dari Schoupenhauer yang dipengaruhi oleh konsep Buddhisme (reinkarnasi). ‘Kembalinya segala sesuatu’ dan ‘Ubermensch’ diajukan sebagai cara untuk mengatasi  kekacauan dan nihilisme yang melanda dunia Barat sesudah runtuhnya pandangan dunia agama Kristen dan pandangan dunia ilmiah.  Jika tidak ada Tuhan dan tidak ada nilai-nilai yang abadi, alam semesta yang kita tinggali menjadi ‘absurd’(bandingkan dengan Albert Camus), maka pandangan Nietzsche bisa benar, dan masing-masing harus mencipta dirinya sendiri.
 Nietzsche menyatakan bahwa; “segala seuatu pergi, segala sesuatu datang kembali; berputarlah roda hakekat itu secara abadi”. Konsep ini juga mengemukakan tentang alam yang tidak berawal dan berakhir. Segala seuatu itu mati, segala seuatu itu berkembang kembali; berlangsunglah rangkaian hakekat itu secara abadi. Konsep “kembalinya sesuatu” secara abadi juga dianggap sebagai antitesis terhadap konsep penciptaan serta kekekalan. Sejarah berjalan sebagai siklus-siklus besar, sehingga ‘makna hidup’ hanya ada dalam kehidupan itu sendiri. Jika kita sadar bahwa bahwa pilihan-pilihan bebas akan tindakan kita akan berulang kembali secara terus menerus, maka diandaikan bahwa kita harus berhati-hati dalam menentukan pilihan dan bertindak. Karena masa depan kita ditentukan sendiri oleh pilihan-pilihan tindakan kita sekarang.
Alasannya adalah, karena keberulangan ini dapat mendorong manusia untuk mencari kebahagian dalam hidup, karena kebahagian itu kelak berulang lagi, sehingga manusia tidak perlu takut mati. (Lihat Vattiomo, 2002: 107). Dalam pandangan ini tidak ada sesuatu yang baru pun dalam alam ini, ia hanyalah perulangan  semua yang ada sebelumnya. Pilihan bebas dalam menentukan tindakan, sesungguhnya paradoks dengan prinsip pengulangan abadinya, karena pengulangan bukan merupakan proses yang berkembang terus secara linear dan kreatif. Jika kehidupan kita sekarang hanya pengulangan masa lalu kita yang buram dan menderita seperti pengalaman Nietzsche sendiri, bagaimana ia berulang menjadi kehidupan bahagia dan menjadi Ubermensch?

IV. Ubermensch

Konsep “Ubermensch” di kemukakan Nietzsche melalui Zarathustra yang turun dari gunung ke kota, di sebuah pasar ditengah penduduk yang lagi ramai menunggu  penampilan seorang penari. Zarathustra menyampaikan berita besar tentang manusia super (Ubermensch, superman) sebagai gambara manusia ideal. Ubermensch adalah manusia super yang menentukan sendiri makna dan tujuan hidupnya, sebagai pengganti manusia yang ditentukan oleh Tuhan yang sudah mati. Ada istilah lain yang sama maksudnya dengan konsep Ubermensch Nietsche yaitu ‘der letzte mensch’ atau ‘the last man’ atau manusia terakhir. Manusia unggul adalah upaya untuk mencapai terus-menerus keunggulan manusia.
Ia mengajukan  konsep manusia “luhur”  akan tetapi bukan sebagai tipe manusia universal,  manusia luhur Nietzsche adalah manusia otokratis yang berkuasa/memerintah yang mampu melakukan suatu yang bengis, apa yang dianggap kasar dan kejahatan. Manusia unggul bukan ciptaan alam karena alam sering kurang adil dan alam lebih mencintai meraka yang sedang-sedang saja. Manusia unggul hanya hasil dari seleksi  manusia, kemudian melalui perbaikan kecerdasan dan pendidikan yang terbaik untuk meningkatkan  keangungan individu.  Jelas bahwa konsep manusia luhurnya ini  sebagai sinismenya terhadap pandangan agama. Ia mengakui peran dari kebengisan dalam keunggulan aristokratik, ia mengemukakan, hampir semua yang kita yang kita sebut “kebudayaan tinggi”  didasarkan pada spiritualitas dan intensifikasi kebengisan”.
Manusia luhur Nietzsche pada dasarnya adalah jelmaan dari kehendak untuk berkuasa. Tracy B. Strong menjelaskan bahwa sikap Zarathustra dibentuk dari sintesa Yesus dengan Socrates. Keduanya dalam beberapa hal melampaui kebudayaan, menolak hukum-hukum eksplisit dari komunitasnya. Socrates kritis terhadap kebiasaan-kebiasaan lokal yang ada pada kebudayaan Yunani dengan metode dialektis yang menyatakan tidak pada segala sesuatu. Yesus di sisi lain  tumbuh besar dalam lingkungan masyarakat yang berfungsi menolak semua praktek praktek lokal: responnya adalah yang total terhadap seluruh dunia Yahudi dan kekafiran (Levin, 2002: 239-40). Nietsche meminta agar setiap orang berani bertangungjawab atas perbuatannya sendiri dan tidak mencari kambing hitam dengan mengaitkan kesalahannya pada syetan. Nietsche tidak menerima syetan, tidak pula mengakui adanya sorga dan neraka, bahkan menyingkirkan jiwa dalam pemikirannya,  ia cendrung berpandangan materialis. Secara sinis ia menyatakan bahwa jiwa lebih cepat mati dari badan. Pandangan ini sebagai penguatan atas pandangan materialisme dan penolakannya terhadap keabadian jiwa/roh.

V. Kehendak Untuk Berkuasa

Kehendak untuk berkuasa merupakan pemikiran Puncak Nietzsche. Untuk mendobrak mentalitas manusia Barat yang menurutnya memiliki “moralitas budak” (slave morality). Nietzsche dan Sartre sering disebut sebagai tokoh eksistensialis yang ateis, akan tetapi dengan argumentasi yang berbeda. Meskipun Nietzsche dan Sartre disebut sebagai eksistensialis yang ateis, akan tetapi tetap tertarik untuk membicarakan masalah moral, walaupun dalam bentuk pendobrakan (dekonstruksi) moral religius. Kaum Eksistensialisme termasuk pemikir yang paling banyak  mambahas masalah moralitas selama abad abad XX. Nietsche sebagai seorang eksistensialis menarik kesimpulan tegas dengan menyatakan bahwa moralitas Barat adalah moralitas budak. Nietzsche berpendapat bahwa agama Kristen memberi dasar dan senjata bagi orang lemah.
 Dalam bukunya The Gay Science (1882, revisi 1887, Kaufmann, 1990) ia melukiskan bagaimana ia menari-nari di atas kuburan moralitas. Nietsche, Sartre, serta umumnya kaum eksistensialis menolak konsepsi etika “borjuis” tertentu tentang moralitas. Pemikir eksistensialis senantiasa menekankan perlunya autensitas, sebagai ajakan untuk menjadi manusia utuh, panggilan untuk tanggungjawab dan heroisme (Solomon, 2002: 544). Sartre dianggap sebagai tokoh terdepan eksistensialis yang sangat menekankan individualisme ekstrem, kebebasan dan tanggungjawab. Ia menyatakan bahwa kita lah yang memberi arti pada dunia dan bukan dunia yang memberi arti pada kita. Berbeda dengan kaum positivisme logis yang penolakannya terhadap permasalahan etis, lebih bersifat ejekan dengan menganggap bahwa pernyataan etis (moralitas) tidak bermakna dan bukan demi autensitas manusia.
Nietsche semula merencanakan untuk membuat karya besar tentang moralitas budak, namun ternyata rencananya ini tidak terwujud. Setelah kematiannya adiknya (Elizabeth) membuat catatan-catatan tentang tulisan-tulisan Nietzsche yang tersebar tentang tema moralitas ini dengan judul, der Wille zur Macht. Karena itu pemikiran Nietsche tentang kehendak untuk berkuasa tidak sistematis dan akhirnya banyak di salah artikan. Seperti Prof Blumer yang mengabungkan  kehendak untuk berkuasa dengan keunggulan ras Aria yang kemudian berkembang menjadi semboyan rasisme Nazi Jerman “Deutshland, Deutschland uber Alles” (Jerman, Jerman di atas segalanya).
Konsep kehendak untuk berkuasa termasuk pengaruh pemikiran Schoupenhauer, yang menggambarkan suasana pada masanya dimana ia melihat manusia tanpa semangat untuk hidup. Nietzsche kemudian menjungkir-balikkan konsep Schoupenhauer tentang “kehendan untuk hidup” (Will to live)  menjadi “kehendak untuk berkuasa”. Alasan Nietzsche adalah “kehendak untuk hidup” Schoupenghauer memerlukan bukan sekedar ‘kehendak hidup’, karena dianggap masih bersifat kosong tanpa makna.  Kehendak untuk berkuasa adalah tujuan dari semua kehendak, kekendak untuk hidup hanya bagian kecil dari kehendak untuk berkuasa. Sedangkan kehendak untuk berkuasa merasuki semua bidang kehidupan.(dalam, The Will to Power, pada aforisme 692 tertanggal Maret-1888).
Menurut Nietszche, realitas dunia bukanlah kehendak untuk eksis (will to existence) melainkan kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Manusia bermoral budak menurut Nietzsche senantiasa mengharapkan belas-kasih, sikap ini jelas-jelas merendahkan dan melemahkan manusia itu. Moralitas budak ini dalam pandangan Nietzsche merupakan warisan agama, Nietzsche menyatakan “They (religions) have preserved too much of what ought to perish” (Kaum agamawan telah mengawetkan terlalu banyak apa-apa yang semestinya harus binasa” (Anti Christ; 573). Nietsche merasa mual, muak melihat penyesalan  dan penebusan, yang ia sebut sebagai lingkaran ketololan (folie circulaire) dosa.



 C. Skeptisisme  Epistemologis
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya Nietzsche mendapat pendidikan bahasa (filologi) dalam suasana yang sangat tradisional dan humanistik. Pada masa itu pandangan yang menguasai dunia ilmiah adalah, anggapan bahwa historisisme sebagai metode yang tepat untuk menjelaskan peristiwa sosial budaya secara universal. Melalui penelitiannya tentang karya-karya klasik, ia justru menemukan bahwa dalam lintas sejarah lama yang ia temukan bukan keseragaman akan tetapi keanekaragaman sejarah dan budaya. Nietzsche menyimpulkan bahwa masyarakat merupakan produk dari Weltanschauung atau pandangan dunia dari berbagai kebudayaan. Masing-masing Weltanschauung memiliki  seperangkat nilai yang relatif ajeg, homogen dan tentu saja terbatas.
Setiap budaya menganggap kebudayaan di luar masyarakatnya merupakan manusia liar yang tidak berkebudayaan, asumsi dasar mereka adalah bahwa ide-ide dan nilai-nilainya sajalah yang benar. Nietzsche akhirnya menarik kesimpulan yang memiliki konsekwensi besar dengan menyatakan  segala sesuatu yang penting tentang kehidupan manusia, ide-ide, tentang kebaikan, kebenaran, kejahatan, kebenaran, kekeliruan, kegilaan semua itu tergantung pada peran serta kita dalam Weltanschauungen lokal yang kontingen (bandingkan dengan Ricahrd Rorty). Setiap masyarakat memiliki sejarah (kebudayaan) yang khas dengan nilai-nilainya yang arbitrer dan kontingen. Orang yang memiliki pemahaman sejarah seperti ini akan mengutamakan keterbukaan, toleransi, obyektivitas, relativitisme kultural serta kejujuran intelektual.
Ide atau gagasan Nietzsche tentang relativisme tidak dapat dilepaskan dari pendidikannnya sebagai ahli filologi empiris dan hasil penelitiannya sejarah yang membuktikan keanekaragaman budaya di mana validitas gagasan-gagasan masing-masing budaya tergantung pada keketatan deduksi-deduksi ide-ide itu. Teori-teori yang didukung oleh sebuah gambaran historisitas dapat dikelompokkan pada tiga kriteria. Pertama,  historisis memegang  teguh bahwa jenis-jenis fenomena yang berbeda adalah hasil dari lingkungan kultural, bukan suatu yang bersifat esensial  dan universal. Nietzsche berupaya menolak pemisahan antara  fakta-fakta dan nilai-nilai, rasionalitas dengan moralitas, serta menegaskan bahwa seluruh psikologi manusia (termasuk hukum-hukum logika) bersifat kontingen.. Secara tegas Nietzsche menyatakan bahwa  ilmu pengetahuan dan rasionalitas  selalu berdasarkan pilihan-pilihan dan preferensi-preferensi  subyektif, sehingga pembedaan antara fakta dengan nilai tidak dapat dipertahankan. Nietzsche setidaknya mengajukan  tiga bentuk perspektivisme dimana masing-masing perspektif memiliki jastifikasinya sendiri-sendiri dengan konsekwensinya yang masing-masing berbeda.
Pandangan perspektivisme ini mendorong psikologisme, mendorong historisisme Weltanschauung  yang kemudian ini menjadi dasar bagi penemuan nihilisme dan dekonstruksinya terhadap antitesa antara kebenaran dan kebohongan. Bentuk dari historisisme dapat dilihat sebagai keragaman dari perspektivisme. Semua bentuk perspektivisme “tertutup” yang menerima ketidak mungkinan manusia untuk memiliki akses  pada perspektif tentang Tuhan, akan tetapi benar bahwa perspektif Ilahiah  benar secara definitif, namun posisi ini dianggap irrasional (Levine, 2000: 73).
Ketertutupan perspektif membawa pada subyektivisme. Subyektivisme berarti setiap individu (subyek) terjebak dalam batasan-batasan miliknya sendiri, pengalaman pribadi murni. Berbagai perbedaan di antara masyrakat dapat disebabkan oleh faktor-faktor fisik dibandingkan kultural, namun ini jelas merupakan sebuah bentuk perpektivisme. Levine pendukung historisisme nominalis, menegaskan bahwa perspektif manusia pada prinsipnya adalah unik, karena masing-masing orang menggunakan posisi historis individual secara halus. Akan tetapi perpsektif juga bisa dimiliki/difahami bersama. Kebudayaan juga bersifat unik dan pada masa lalu relatif terisolasi, di mana sekelompok masyarakat (budaya) memiliki ide-ide, nilai-nilai fundamental yang sama. Sehingga pemikiran, nilai-nilai individu-individu dalam satu budaya relatif akan terstruktur secara kultural atau konteks budaya lokal mereka.
Historisisme dialogis juga memandang kebudayaan secara internal bersifat homogen, akan tetapi anggota dari satu kebudayaan tertentu dapat belajar dari anggota kebudayaan lain. Psikologisme menunjukkan bahwa semua manusia berbagi perspektif yang bersifat kontingen tentang dunia, bisa jadi sebagai akibat faktor biologis, akan tetapi kita tidak mempunyai akses pada pespektif-perspektif lain. Perspektivisme transenden di sini berarti bahwa manusia memiliki perspektif yang sama, kontingen, akan tetapi kita juga dapat memahami perspektif orang lain, misalnya perspektif tentang Tuhan (Levine, 2000:71-72). Misalnya beberapa teoritisi mengecualikan hukum-hukum logika dari keseragaman historis yang mereka pikir diterapkan  pada bidang etika. Historisisme adalah sebuah gambaran umum yang berperan sebagai dasar dan sejumlah teori yang lebih khusus.
Dari Imanuel Kant, Nietzsche mengambil konsep epistemologi dan kausalitas yang sangat berpengaruh bagi pemikiran sesudahnya dengan mempertanyakan kategori transendental. Kant mengemukakan tiga kritik yang memberikan pendasaran bagi rasionalitas manusia dan mengemukakan bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui bantuan ketegori-kategori transendental yang ada dalam pikirannya. Nietzsche justru menentang itu dengan mengemukakan bahwa apa yang disebut pengetahuan itu, sesungguhnya hanyalah buatan (konstruksi) akal manusia saja. Nietzsche menganggap apa yang dikatakan oleh Kant bahwa pengetahuan universal dapat diraih karena setiap orang memiliki kategori-kategori transenden yang sama dalam pikirannya, hanyalah sebuah ilusi. Bagi Nietzsche “kebenaran” hanyalah sebuah fungsi dari bahasa yang kita pakai. “Kebenaran” itu dalam pandangan Nietzsche hanya ada dalam lingkup “bahasa” (Nietzsche dalam “On Truth and Falsifity in an-Extra-Moral Sense’, h 44-46;  Grenz 2001: 142).
Nietzsche juga mengkritik dialektika Hegel yang merasa berhasil mengatasi filsafat (epistemologi Kant) dengan mengatasi dualisme fenomena dengan noumena melalui metode dialektika. Dalam pemikiran Hhegel pertentangan daslam sejarah kehiduapn senantiasa dapat diatasi melalui dielaketika. Sejarah pada prinsipnya adalah gerak menuju satu pengetahuan mutlak/kebenaran total (Absolute Geist). Nietzsche menolak itu, menurutnya pengetahuan yang sempurna akan kebenaran, ternyata menolak kebenaran itu sendiri. Gagasan Nietszche ini mungkin dapat difahami dengan agak mudah dengan meminjam gagasan Popper tentang kebenaran teori yang selalu difalsifikasi secara terus menerus. Falsifikasi teori demi teori diasumsikan bahwa ilmu pengetahuan semakin lama mendekati kebenaran.
Menurut Nietzsche setiap kata-kata Heracleitos mengekpresikan kebanggan dan kemuliaan dari kebenaran itu sendiri, namun kebenaran bukan kebenaran yang hanya diraih oleh kemampuan rasio (logika) semata, akan tetapi lebih merupakan kebenaran yang diperoleh melalui intuisi-intuisi intelektual. Kebenaran bukan diartikan sebagai suatu keharusan logis atau moral, akan tetapi sebagai kebenaran cita rasa (cita rasa kebenaran) itu sendiri. Nietszche mengakui keterbatasan rasio manusia serta pemahamannya, sehingga “kebeneran” itu tidak dapat diungkap atau tidak teraih. Realitas itu sendiri tiada lain selain proses menjadi tanpa henti.Bagi Nietzsche hidup adalah rangkaian kebenaran dan kekeliruan serta ketidakpastian. Kehendak untuk kebenaran (will to truth) tiada lain selain kehendakm untuk kekuasaan (will to power).
Neitzsche seorang skeptis(isme) yang selalu curiga dan ragu bahwa manusia/seseorang memiliki pengetahuan  (kebenaran ilmiah). Para ilmuwan dan filsuf pada dasarnya seorang skeptissisme selektif dalam arti mereka  menyatakan bahwa filsafat yang sebelumnya keliru, sementara kebenaran yang mereka kemukakan adalah suatu kebenaran yang tidak terbantah. Skeptisismenya adalah skeptisime global dan mendalam, dengan menyatakan bahwa tidak ada yang dikatakan pengetahuan manusia. Dan kebenaran itu sesuatu yang tidak terjangkau, atau yang lebih drastis dianggap sebagai mitos. Skeptisime global Nietzsche itu sekarang disebut dengan anti-fondasionalisme, suatu keyakinan adanya suatu fondasi yang dipercaya bagi penemuan kebenaran.  Fondasi itu sesuatu yang dianggap sudah jelas dengan sendirinya, karena itu diyakini benar.
Dalam dunia ilmiah misalnya ada keyakinan bahwa kebenaran teori bisa dicapai jika ilmuwan menerapkan prosedur penelitian dengan ketat, ada keyakinan bahwa fenomena alam berjalan berdasarkan hukum-hukum linear yang pasti. Semua ini menjadi keyakinan ilmiah yang masuk akal, akan tetapi sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dibuktikan. Dari asumsi-asumsi atau keyakinan metafisik seperti inilah fondasi ilmu pengetahuan ditegakkan. Nietzsche mengemukakan bahwa semua sitem pemikiran Barat ditegakkan di atas asumsi metafisika seperti itu. Descartes menekankan bahwa kita dapat menemukan pengetahuan  yang pasti/benar dengan menggunakan rasio sesuai dengan metode keraguannya. Ada asumsi mendasari metode rasionalisme Descartes, yaitu  rasio yang dianggap bersifat universal, otonom dan obyektif, sehingga dengan menggunakannya secara ketat kita akan menemukan kebenaran.
 Nietzsche menolak fondasi ilmu pengetahuan dan pemikiran Barat tersebut secara radikal dengan menolak pandangan rasionalitas Descartes, menolak keyakinan kaum empiris dengan mengemukakan konsep perspektif dan kontigensi rasionalitas dan bahasa. Sebagai seorang yang dipengaruhi Heraclitos, ia berpendapat bahwa alam semesta selalu dalam proses perubahan terus-menerus tanpa aturan, sehingga koherensi dan stabilitas yang kita temukan tentang alam adalah hasil ciptaan/konstruksi kita sendiri. Nietzsche menolak kebenaran korespondensi  yang mempercayai adanya akses langsung kita ke realiatas baik melalui rasio (oleh kaum rasionalisme) atau melalui pengalaman (kaum empiris). Nietzsche menyatakan bahwa satu-satunya kebenaran nyata tentang diri kita dan dunia adalah “Kehendak untuk berkuasa”. Upaya untuk menemukan kebenaran ilmiah itu dalam pandangan Nietzsche sebagai bentuk keinginan akan kekuasaan (Robinson, 2002: 10-13).
Dari pemikiran Nietzsche ini dapat dikemukakan bahwa ‘kebenaran’ adalah hasil konstruksi/ciptaan manusia sendiri, yang berguna bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesies. ‘Pengetahuan’ dan ‘kebenaran’ sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan, bukan entitas yang transenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak mungkin ‘obyektif’, karena hasil konstruksi manusia dan selalu sebagai upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia. Mengetahui tidak lain dari ‘memasang kategori-kategori terhadap proses yang tidak beraturan, yang menjadikan dunia ini berguna bagi kita dan memberi kita kesan akan kekuatan dan kekuasaan’. Matematika dan deduksi logis adalah hasil rancangan manusia, berbagai prapengandaian yang tidak berkaitan dengan apapun dalam dunia nyata’ ( Robinson, 2002: 14; Nietzsche1977: 56).
Pada masa cemerlang Nietzsche, beberapa tahun sebelum kematiannya ia membuat beberapa ramalan yang menakutkan tentang zaman baru yang akan muncul. Abad baru yang mengagumkan  akan melahirkan katakutan luar biasa sebagai akibat “kematian Tuhan”. Suatu penderitaan yang mendalam akibat dekadensi dan ketidak percayaan manusia modern, konsekwensi yang ganas akibat moralitas kawanan yang menjengkelkan dan kebenaran yang sulit bahwa pada hakekatnya tidak ada ‘kebenaran’. Bila kita telusuri pemikiran dalam filsafat ilmu pengetahuan sekarang ini, umumnya menerima  bahwa kebenaran ilmu pengetahuan bukan kebenaran obyektif-universal atau “Kebenaran’, karena sifatnya  kebenaran itu konvensional, terbatas, dan tentatif.
Sekarang ini difahami bahwa logika dan metode bukan memantulkan realitas dan bukan pula jaminan bagi kebenaran. Ia hanya cara kita untuk memahami realitas yang kita anggap paling aman, sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Logika, metode ilmiah juga mengandung asumsi-asumsi bahwa segala sesuatu sama, segala sesuatu dapat digeneralisasi dan dikelompokkan secara homogen. Logika dan metodologi hanyalah cara untuk merangkaikan kembali konstruksi-konstruksi kreatif-imajinatif yang mungkin saja asumsi dasar metafisikanya dan hasilnya keliru (Nietzsche, Gay : 61). Logika dan metode tentu saja sangat berguna untuk mengendalikan dan menguasai dunia, akan tetapi bukan untuk meraih Kebenaran transenden.
Nietszche tampaknya banyak menggunakan pemikiran dan kritik Hume terhadap empirisme, sebagai dasar untuk mengitik pandangan modern terhadap ilmu pengetahuan dan klaim-klaimnya tentang kebenaran. Nietzsche menulis tentang ini dengan menyatakan:
“Kesesuaian alam dengan ‘hukum’ yang dibicarakan dengan begitu bangga oleh kalian ahli fisika…, hanya eksis dikarenakan tafsir filologi kalian yang buruk….Benda-benda itu tidak berjalan secara teratur, menurut suatu aturan; tak ada benda-benda itu…mereka itu tidak berjalan di bawah paksaan keniscayaan…, Dan seluruh ilmu kita masih berada di bawah pengaruh bahasa yang menyesatkan” (Robinson, 2002 : 20).
Kehidupan sosial dan intelektual tergantung pada kesepakatan bersama, kesepakatan ini menentukan realitas yang disepakati (problem ontologi) di mana konsep-konsep ilmiah - nonilmiah mau-tak mau ditentukan. Konsep-konsep itu diperkuat oleh bahasa, bahasa sebagai alat bagi kita untuk mengemukakan dan memahami realitas. Bahasa manusia tidak memiliki hubungan yang koheren dengan realitas. Bahasa tidak bersifat ‘harfiah’ dalam arti mampu menjelaskan realitas apa adanya pada kita.Gagasan-gagasan Nietzsche tentang bahasa metaforis, mempengaruhi para filsuf seperti Wittgenstein, Jacques Derrida, Richard Rorty, dan filsuf posanalitik. Konsep pengetahuan, kebenaran bersifat metaforis, bahasa sering dijadikan sebagai alat penipuan diri manusia yang berlangsung secara terus menerus. Kata-kata adalah sarana untuk berpikir, sementara itu kita sering mengandaikan bahwa bahasa mengacu pada ‘realitas’ yang ada di luar sana.
Nietzsche menganggap bahwa dengan nihilis memberikan kekebasan besar bagi orang-orang untuk bertindak secara kreatif meskipun mereka mengetahui bahwa tidak ada kebenaran dan kekeliruan, kebaikan dan kejahatan. Masyarakat seperti inilah yang disebut sebagai manusia terakhir (Ubersmench) yang melampaui kebudayaan, akan tetapi mereka dapat menggali kekayaan budaya sebagai suatu yang bermanfaat. Nihilisme telah membebaskan individu dari kungkungan rasionalitas konvensional dan memberikannya kesempatan untuk membentuk/ciptakan filsafat baru. Filsafat yang  ahistoris yang dengan sendirinya tidak sesuai dengan temuan-temuan ahli filologi. Nietzsche anti terhadap ahli filologi yang terlalu berlebihan dalam penafsiran mereka, dengan menganggap bahwa tafsiran-tafsiran mereka  benar. Bagi Nietzsche kebenaran bukanlah nilai tertinggi, dan suatu kesalahan penafsiran yang berguna terhadap teks bisa saja lebih diutamakan daripada penafsiran akurat tetapi berbahaya.
Nietzsche menggambarkan perjuangan ini sebagai perjuangan melawan nihilistik secara aktif (ubermenschekich)-nya melawan nihilisme ‘manusia terakhir’ yang pasif. Derrida dalam hal yang sama kemudian mencoba melampaui kebenaran dan kesarjanaan  sebagai inti dari filsafat dekonstruksinya. Levine mengemukakan bahwa pemikiran Nietzsche secara kasar dapat disimpulkan mengikuti pola sebagai berikut:
1) Historisisme, atau pengakuan terhadap keragaman nilai-nilai dan ide-ide tentang waktu;
2)  Historisisme-Weltanschauung, yaitu suatu kepercayaan  bahwa kompleksitas organik dari ide-ide dan nilai-nilai menjadi dasar bagi setiap kebudayaan, yang menentukan perjalanan kehidupan dan pemikiran manusia
3)  Relativisme, artinya bahwa ide-ide, teori-teori hanya benar atau tidak, baik atau tidak ditentukan olek Weltanschauung khusus.
4)  Nihilisme, yaitu kehilangan kepercayaan tentang ide tentang kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kekeliruan; kemudian pernyataan (3) berubah melawan dirinya-sehingga relativisme dengan sendiri bersifat relatif.
5) Filsafat Dionysian, atau perjalanan kreatif melampaui kebudayaan dan rasionalitas, (Levine, 2000: 7).
Nietsche boleh dikatakan kurang membicarakan masalah epistemologi, pemikirannya lebih pada permasalahan metafisika, etika serta kritik historis (kebudayaan modern) yang luar biasa tajam. Kritik Nietzsche yang tajam ini telah menempatkan sebagai seorang filsuf yang sangat berpengaruh terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Nietzsche percaya bahwa semua klaim tentang nilai-nilai dan kepercayaan sesungguhnya didasarkan atas pandangan metafisika. Misalnya pandangan tentang realitas, tentang subyek atau aku, tentang kesadaran/jiwa dan lain-lain. Nietzsche misalnya menolak konsep aku, subyek, kesadaran model Descartes dan Kant dengan manyatakan bahwa tindakan manusia benar-benar nyata, dan kemudian menyusupkan diri/kesadaran fiksional sebagai penyebabnya. Pandangan Nietzsche yang menolak eksistensi dari subyek manusia yang metafisik ini, sering disebut sebagai anti humanisme Nietzsche.
 Nietzsche meramalkan  akan muncul pencarian dewa-dewa baru, para fuhrer baru karena rasa putus asa. Mungkin muncul pencarian ideologi-ideologi baru atau bahkan mitos-mitos baru, atau akan terjadi peperangan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Sejarah yang bejalan kemudian justru membuktikan bahwa ramalannya banyak benar (Solomon & Kathleen M Higgins, 2002: 480).
Pada tahun 1885, Nietzsche masih menghawatirkan  “konsekwensi-konsekwensi nihlismenya” dari histogriorafi dari para sejarawan praktis, yaitu kaum romantik. Ia mengkritik sarjana yang menganggapnya sebagai seorang alat, seorang budak, namun di dalam dirinya tidak ada apa-apanya. Seorang sarjana ynag mengklaim terbuka bagi segala sesuatu, akan tetapi pada kenyataannya tertutup pada kebudayaan dan tradisi lain, biarkan kita pada akhirnya  memilikinya untuk diri kita sendiri. Nietzsche mengkritik sarjana-sarjana  yang menurutnya duduk di belakang meja yang suka membual, berkontemplasi, pengecut eunuchisme sajarah yang penuh gairah, dan kemunafikan para sarjana. Nietzsche menyatakan bahwa ia lebih menyukai ketidaktahuan seekor binatang yang secara total unhistoris yang hidup di dalam cakrawala yang tidak lebih besar dari sebuah titik, namun dengan kebahagian tertentu, yang hidup paling tidak tanpa kejenuhan atau kemunafikan.
 Ia mengemukakan bahwa pandangan ahistoris adalah atmosfir terselubung, di dalam keyakinannya semata-mata hidup dijalani, hanya hilang dengan hilangnya atmosfir ini (Levin, 2002:136). Sarjana adalah binatang kawanan dalam bidang pengetahuan kata Nietzsche. Sarjana yang melakukan penelitian karena perintah dan bekerja/melakukan sesuatu karena yang lain melakukannya demikian. Nietzsche dianggap seorang yang anti-feminis. Pemikiran-pemikirannya sangat merendahkan dan melecehkan kaum perempuan. Dalam Zarathustra ia menyatakan bahwa wanita-wanita sampai di masanya tidak bisa bersahabat; mereka seperti kucing, atau burung, atau paling banter seperti sapi. “Lelaki harus dilatih untuk berperang, sementara wanita  rekreasi para prajurit”. :Akan kau jumpai perempuan?”. Jangan kau lupakan cambuk mu!” (Russel; 2002: 194). Seorang perempuan dalam pandangan Nietzsche tidak pernah difahami.

D. Kritik Nietzsche  terhadap Rasionalitas dan Kebenaran

Pemikiran Nietzsche tentang kebenaran dan profesi sarjana, tidak terlepas dari  posisinya berkenaan dengan ‘kebenaran dan kebohongan dalam pengertian ekstra moral. Upayanya untuk mentranvalusai nilai-nilai bukan hanya nilai moralitas, akan tetapi juga nilai-nilai ilmiah dan rasionalitas. Kritiknya  yang tajam terhadap paradigma rasionalitas  modern, adalah upaya untuk menerima kekayaan dimensi manusia, dan tidak  terperangkap oleh kebenaran moral dan rasionalitas saja. Untuk itu ia menawarkan seni untuk memasuki  dimensi manusia yang paling dalam, yang tidak mampu di raik oleh rasio manusia.Seni seperti Wagner bagi Nietzsche dapat mengatasi kemerosotan kebudayaan Barat (jerman), karena musiknya dapat menunjukkan dimensi kehendak sebagaimana dikemukakan Schopenhauer. Bagi Schopenhauer seni sebagai jalan menghilangkan pnderitaan yang ditimbulkan oleh kehendak hanya bersifat sementara, jalan yang lebih sempurna untuk menghilangkan penderitaan itu adalah melalui asketisme. Neitzsche menolak cara yang ditawarkan Schopenhauer, yang dianggapnya cara otang lemah Dan melarikan diri pada dunia mimpi (ilusi) Menurunya seni dan tragedy (seperti masa yunani) dapat mengatasi dekadensi kebudayaan Modern.
Baik Shopenhauer maupun Nietzsche menolak gagasan Kant yang mengangungkan rasio. Menurut Kant hanya rasiolah yang dapat memahami fenomena. Dengan keberanian menggunakan rasio secara otonom (sapere aude!) pulalah manusia memperoleh kedewasaannya (Pencerahan) dan modernitas. Schopenhauer Dan Nietsche lebih menekankan pada keinginan, hasrat daripada rasio.Ia menyetakan bahwa rasionalitas sesungguhnya bersifat kontingen, dan klaim apapun tentang kebenaran obyektif adalah kekeliruan yang paling dalam. Kritik terhadap kebenaran juga tidak dapat dilepaskan dengan perspektivismenya, pandangan bahasa sebagai metafor, permainan bahasa, serta pandangan keterkaitan peneliti/pengamat dengan konteks sosial-historisnya. Nietzsche mengemukakan pernyataan yang terkenal tentang ini dengan menyatakan:
                           “Lantas apa kebenaran? Sepasukan metafor yang bergerak, metonim, antropomorphisme: pendeknya sejumlah hubungan-hubungan manusia yang ditinggikan, ditransfer dan diperintah secara puitis dan retorik, dan setelah lama digunakan tampak kokoh, kanonik dan mengikat suatu bangsa. Kebenaran adalah ilusi-ilusi yang telah dilupakan bahwa kebenaran itu adalah ilusi…(Levin, 2002: 153).
Jadi kebenatran ibarat kawanana tentara (divisi lokal) yang masing-masing menjaga keamanan dalam wilayahnya sendiri-sendiri. Nietzsche berpendapat bahwa bahasa tidak tepat  untuk mengungkapkan kebenaran tergantung pada pengakuan terhadap keragaman kultural dan komitmen terhadap gagasan bahwa masing-masing kebudayaan memandang dunia dari skema konseptual yang terpisah.  Setiap klaim kebenaran menurut Nietzsche  tergantung pada pandangan bahwa setiap klaim  kebenaran secara keseluruhan bersifat imanen dalam sebuah kebudayaan dan bahasa  serta argumen khusus. Manusia mesti secara irasional dan sepenuhnya mempunyai komitmen terhadap sebuah Weltanschauung holistic yang mereka sebut  dengan kebudayaannya, termasuk juga budaya/cara mereka berpikir. Nietzsche juga mengakui pluralisme kebudayaan dan nilai-nilai yang satu sama lain tidak dapat dibandingkan.
Menurut Wilamowitz Nietzsche kurang mempunyai sikap rasional dan lebih mencelakakan dari kesalahan-kesalahan yang dia buat. Ia menganggap rasionalitas merusak diri sendiri, ia mengajukan  historisisme Weltanschauung, yang pada akhirnya menunjukkan kontigensi semua bentuk penalaran. Nietzsche tidak menghargai rasionalitas, bahkan mendekonstruksi rasionalitas itu; dan menghargai klaim-klaim dogmatisnya sendiri untuk meruntuhkan dasar-dasar miliknya dan lebih banyak lebih baik untuk Wissenschaft (Levin, 2002: 162). Jika rasio, logika, metode dan bahasa sudah tidak lagi dapat dijadikan fundasi yang terpercaya bagi penemuan kebenaran ilmiah, lalu apa lagi yang dapat diandalkan?
 Robinson merumuskan perkembangan pemikiran tentang perspektivisme sebagai berikut:
1)  jika manusia hanya bisa memiliki pengetahuan fenomenologis, maka mereka harus memalsukan dunia ‘yang sebenarnya’ dengan mengenakan kategori-kategori dan konsep-konsep manusia terhadapnya. Dengan demikian pengetahuan yang terpusat pada manusia itu tidak mungkin benar.
2)  Berbicara tentang dunia ‘noumenal’ (transendental) sama sekali tidak berguna, karena yang dapat dialami hanyalah dunia fenomenal kita sendiri yang bersifat pribadi. Karena itu semua pengetahuan pastilah merupakan pengetahuan manusia(wi) dan tidak mungkin di luar itu.
3)  Dengan demikian hasrat Plato, para filsuf Kristen dan Pencerahan terhadap kebenaran pengetahuan yang obyektif, tunggal, noumenal, transendental adalah suatu yang keliru, tak dapat dibuktikan, serta berlebih-lebihan bagi kebutuhan kita sebagai spesies.
4)  Jika tidak ada dunia ‘noumenal’ maka berbicara dunia seperti itu, seolah-olah ia adalah  dunia yang ‘tampak’, maka itu suatu kesalahan yang menyesatkan.
5)  Semua persepsi dan pengetahuan manusia bersifat ‘perspektivis’ dan unik pada setiap individu.
6) Semua pengetahuan tentang dunia fenomenal (sekiranya itu ada) akan merupakan pengetahuan mutlak dan sepenuhnya obyektif. Namun pengetahuan seperti ini nonperspektifis dan nonmanusiawi, akan tetapi  mustahil manusia membicarakan atau membayangkannya, karena yang dapat kita bicarakan hanyalah dunia fenomenal.
(Robinson, 2002: 58-59).

E. Kesimpulan
Argumen-argumen relativis(me) Nietzsche yang didasarkan atas relativisme kultural dan sejarah menunjukkan bahwa begitu banyak penjelasan-penjelasan yang berbeda-beda tentang realitas sesuai dengan perbedaan perspektif dan budaya. Nietzsche menunjukkan bahwa sistem pemikiran Barat didasarkan atas sistem metafisika tertentu, misalnya, ajaran esoterik Nietzsche seperti kehendak untuk berkuasa, kembalinya segala sesuatu secara abadi yang sengaja diajukan untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu itu menuju pada arah “ketiadaan” (nothing). Pemikiran Nietzsche penuh dengan kontradiksi bahkan sebagian tidak benar, atau setidaknya bertentangan dengan penemuan ilmiah misalnya konsepnya tentang alam yang tidak berawal dan berakhir. Meskipun tidak semua pemikiran Nietzsche dapat diterima, namun ia tetap diakui sebagai pemikir besar, karena ia mengajukan berbagai permasalahan yang orisinal yang belum dipertanyakan sebelumnya.
Serangan Nietzsche pada Agama Kristen serta pada ilmu pengetahuan dan kebudayaan Barat modern seakan-akan sebagai upaya untuk meruntuhkan narasi-narasi besar zaman modern. Francois Lyotard lah yang kemudian menyatakan secara tegas tentang runtuhnya narasi-narasi besar zaman modern itu. Pada tahun 1960-an beberapa filsuf  Prancis yang dipengaruhi oleh Heidegger, mulai kembali menganalisis karya-karya Nietzsche sebagai suatu kritik terhadap kebudayaan modern dan Kebenaran. Pemikir-pemikir posmodernis ini, boleh dikatakan sebagai sebuah catatan-catatan kembali proyek dekonstruktif Nietzsche. Robert Pippin misalnya dengan jelas menyatakan bahwa, filsafat Nietzsche dalam bahasa yang lebih fashionable adalah sebuah solusi (bagi krisis modernitas) yang mendekonstruksi dirinya, akan tetapi orang yang bertanggungjawab terhadap dekonstruksi  bukan tekstualitas itu sendiri, akan tetapi Nietzsche.
Menurut Bloom ancaman terbesar bagi kebudayaan adalah historisisme yang mencapai puncaknya pada Nietzsche dan Heidegger. Kedua tokoh ini dan para pengikutnya turut menyumbang pada penghancuran liberalisme di Jerman serta munculnya fasisme. Bloom menolak aggapan Nietzsche bahwa historisisme adalah benar, ia hanya menyatakan bahwa historisisme telah menghasilkan Hitler, dan kritisisme tidak mencari jalan keluar dari krisis nihilisme itu, misalnya dengan menolak relativisme kultural. Salah satu pemikiran Nietzsche yang menggema dalam filsafat ilmu pengetahuan sekarang adalah pandangan bahwa ilmu pengetahuan sebagai aktivitas sosial dan kultural yang sifatnya sangat terbatas, sesuai dengan keterbatasan manusia itu sendiri (manusiawi). Pemikiran seperti ini dikemukakan Kuhn, Paul Feyerabend, Derrida, Foucault, Rorty dan kaum konstruktivis. Nietzsche dan pemikir-pemikir tersebut menawarkan pandangan tentang ilmu pengetahuan yang baru, yang lebih bersifat  pragmatis serta menyadari bias dan beberapa keterbatasannya.
 Diantara sekian banyak pemikir yang terpengaruh oleh Nietsche, mungkin Jacques Derrida termasuk yang paling jelas dan dalam pengaruhnya. Pengaruh ini terlihat pada metode dekonstruksi, penolaknnya pada kebenaran obyektif dan universal, antifundasionalisme, skeptisisme, anti metafisika dan lain-lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Karya Anak Bangsa Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template