Senin, 08 Februari 2010


BAB I
PENDAHULUAN
I.A Latar Belakang
Plotinus dilahirkan pada tahun 205 SM di Lykopolis di Mesir ( tapi ada juga yang menyebutkan Plotinus lahir pada tahun 204 SM ) yang pada waktu itu dikuasai oleh Roma dan meninggal di Minturnea di Italia pada tahun 270 SM. Orang tuanya berasal dari Yunani. Ia tidak mau menjadi orang yang terkemuka pada waktu itu, ia menolak semua tukang patung yang bermaksud membuatkan patung dirinya. Ia terkenal dengan keserhanaan hidupnya.
Mulanya Plotinus mempelajari filsafat dari ajaran Yunani, terutama dari buah tangan Plato. Akan tetapi ia merasa pengetahuannya belum cukup dalam. Ia ingin memperdalamnya dengan mempelajari mistik dari Persia dan India. Untuk itu ia pergi sendiri ke sana. Akan tetapi kebetulan pula kaisar Roma, Gordianus, menyusun tentaranya untuk menyerbu ke Persia. Plotinus menawarkan diri dalam laskar Gardianus.
Namun, laskar Gardianus menderita kekalahan besar dan Plotinus hanya dapat melarikan diri. Sesudah gagal pergi ke Persia dan India, ia berangkat menuju Roma. Satu tahun menetap disana untuk mengajarkan filsafatnya. Diantara murid – muridnya ada orang – orang besar, namun karena sikapnya yang sederhana, orang – orang besar itu menghormatinya, bahkan ada juga yang mendewakan dirinya. Pada hari tuanya, ia sering sakit – sakit dan karena itu pula ia berhenti mengajar filsafat. Ia mngundurkan diri dan bertapa. Pada tahun 270, ia meninggal di suatu tempat yang bernama Minturnea dalam usia 65 tahun.
I.B Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua dan sebagai bentuk untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Bpk. Salman
BAB II
PEMBAHASAN
II.A Pokok Ajaran Plotinus
Pada mulanya Plotinus tidak bermaksud untuk mengemukakan filsafatnya sendiri. Ia hanya ingin memperdalam filsafat Plato. Oleh sebab itu, filosofinya disebut pula dengan Neoplatonisme.
Plotinus mendasarkan ajarannya kepada yang baik yang meliputi segala – galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada yang satu. Yang satu adalah pangkal segala – galanya.
Filsafa Plotinus berpangkal pada keyakinan bahwa segala ini, yang asal itu, adalah satu dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Yang asal itu bukan kualitas dan bukan pula yang terutama dari segala keadaan dan perkembangan dalam dunia. Segalanya datang dari, yang asal. Yang asal itu adalah sebab kuantita, akal bukan jiwa, bukan suatu yang bergerak bukan pula yang terhenti, bukan dalam ruang dan bukan dalam waktu.
Yang satu itu tidak dapat dikenal, sebab tidak ada ukuran untuk membandingkannya. Yang baik menunjukan apa artinya yang baik itu untuk mahluk yang lain, bukan apa itu baginya sendiri. Hanya satu saat positif yang tidak boleh tidak ada padanya, yaitu yang asal itu adalah permulaan dan sebab yang pertama dari segala yang ada.
Plotinus merasakan sendiri kesulitan yang dihadapinya sebagai kelanjutan logikanya. Untuk mengatasi kontradiksi itu, ia mengemukakan dasar kausalita Tuhan. Yang satu itu adalah semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun barang yang banyak itu. Yang satu adalah semuanya berarti bahwa yang banyak itu ada padanya. Di dalam yang satu, yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datangnya dari dia. Karena yang satu itu sempurna, tidak mencari apa – apa, dan tidak memerlukan apa – apa.
Alam ini terjadi dari yang melimpah atau mengalir dari yang asal dan yang mengalir itu tetap bagian dari asalnya tadi. Bukan Tuhan derada dalam alam, melainkan alam berada dalam Tuhan. Jalannya sebab dan akibat serupa dengan air yang mengalir dalam mata air, seperti panas dalam api.
Dalam ajaran Plotinus, yang satu itu adalah dalam keadaan sempurna. Oleh sebab itu, bertambah banyaknya yang tidak sempurna hanya bisa terjadi dalam bertambah banyaknya yang berbagai rupa, pembagian dan perubahan – perubahan. Dari yang satu datang “mahluk” yang pertama yaitu akal ( dunia pikiran ). Dari akal datang jiwa dunia, yang pada gilirannya melahirkan materi. Semua itu datang dari yang satu, tetapi semua itu terus langsung berhubungan dengan yang satu tersebut. Demikanlah cara Plotinus menyusun suatu sistem filosofinya, yang sebelum itu tidak terdapat dalam alam pikiran Yunani.
Yang paling dekat dengan Tuhan, yang satu ialah akal. Sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh yang satu, sudah tentu akal itu kurang sempurna dan karena itulah ia adalah suatu “yang banyak”. Akan tetapi “yang banyak” itu bukanlah yang banyak jumlahnya, bahkan masih banyak hubungannya dengan yang satu. Sebagaimana yang asal melahirkan akal, demikian juga akal melahirkan jiwa dunia. Lahirnya jiwa dunia adalah suatu emanasi dari akal.
Namun pemikiran jiwa itu kurang sempurna. Jiwa itu mempunyai dua habungan. Hubungan ke atas kepada akal, yang lebih sempurna dan hubungan ke bawah kepada benda, yang kurang sempurna. Jiwa mempunyai tugas, yang semestinya melahirkan sesuatu yang berupa materi, benda.
Ajaran tentang Jiwa
Ajaran Plotinus tentang jiwa adalah dasar teorinya tentang hidup yang praktis dan ajaran moral. Menurut pendapatnya, benda itu karena tidak terpengaruh yang satu, yang baik, adalah pangkal dari yang jahat. Menurut Plotinus, jiwa itu tidak langsung bersalah. Seperti telah diterangkannya tadi, jiwa itu mempunyai dua macam hubungan, ke atas dan ke bawah.
Plotinus mengajukan pertanyaan pokok: apa sebab jiwa – jiwa yang pada dasarnya datang dari Tuhan, jadinya “mahluk” yang ideal, melupakan Tuhan dan lupa pula akan diri sendiri?
Plotinus menjawab: mula kejahatan timbul pada mereka yang menjadi sombong dan ingin mencapai tanda kebesaran untuk diri sendiri. Karena jiwa – jiwa itu merasa bangga atas keadaannya berdiri sendiri dan suka mempergunakan kesempatan untuk keluar dari garis jalan hidupnya, menempuh jalan yang sebaliknya, mereka jauh sekali terpisah dari alam asalnya.
Karena jiwa – jiwa itu mengagumi dunia dan mengutamakan benda, mereka merendahkan harga diri sendiri dari barang – barang di dunia ini. Itulah yang menjadi sebab mereka tak kenal lagi kepada dunia asal dan tak sanggup lagi menerima dalam darinya sifat dan tenaga Tuhan.
Hubungan jiwa dan benda diterangkan oleh Plotinus sebagai berikut. Jiwa yang pada hakikatnya “mahluk” rohaniah tidak dapat dikurung oleh benda seperti barang dalam peti. Kerena “mahluk” yang lebih tinggilah yang meliputi yang lebih rendah. Dengan jalan begitu, Plotinus mengajarkan bahwa dosa dan keburukan, kejahatan dan kebengisan hanya ada pada keadaan dan perbuatan “aku” yang rendah. Tidak ada pada jiwa yang masih murni.
Selama jiwa itu terikat kepada badan, kepada benda, sukar sekali ia mencapai tujuan yang suci, yaitu sama dengan Tuhan, mengalir kembali ke asal Yang satu. Sesudah mati, apabila jiwa itu lepas dari badan, jalan ke atas itu lebih mudah. Akan tetapi, apabila jiwa itu benar – benar akan merebut kembali kesenangan hidup dalam alam asal itu. Karena jika dalam jiwa itu terlalu terikat kepada benda, sesudah mati, ia belum sanggup melepaskan diri dari benda – benda tersebut dan haruslah ia masuk lagi ke dalam badan lain. Ia akan hidup kembali sebagai tanaman, bintang atau manusia menurut tinggi rendahnya tingkat kedurhakaannya.
Ajaran tentang Hidup dan Moral
Plotinus tentang hidup dan moral mudah sekali ajaran itu tak lain daripada melaksanakan dalam praktik ajarannya tentang jiwa. Tujuan hidup manusia dikatannya mencapai persamaan dengan Tuhan. Budi yang tertinggi adalah roh. Mensucikan roh adalah satu – satunya jalan menuju cita – cita kemurniaan.
Neoplatonisme
Sebagai ajaran yang berpangkal pada pemikiran Plotinus (205-270 M), sebetulnya Neoplatonisme mengandung unsur yang memberi kesan tentang ajaran Tauhid . Sebab Plotinus yang diperkirakan sebagai orang Mesir hulu yang mengalami Hellenisasi di kota Iskandaria itu mengajarkan konsep tentang "yang Esa" (the One) sebagai prinsip tertinggi atau sumber penyebab (sabab, cause). Lebih dari itu, Plotinus dapat disebut sebagai seorang mistikus, tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist" ataupun "guru ajaran esoterik", tetapi dalam artinya yang terbatas kepada seseorang yang mempercayai dirinya telah mengalami penyatuan dengan Tuhan atau "Kenyataan Mutlak.
Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat "akali" (ideas, intelligibles) dan yang bersifat "inderawi" (sensibles), dengan pengertian bahwa yang akali itulah yang sebenarnya ada (ousia), jadi juga yang abadi dan tak berubah. Termasuk diantara yang akali itu ialah konsep tentang "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan disebut sebagai berada di luar yang ada (beyond being, epekeina ousias) . "Yang Baik" ini kemudian diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang tak terjangkau dan tak mungkin diketahui.
Unsur terpenting yang diambil Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang lebih tinggi daripada semua jiwa. Aristoteles mengisyaratkan bahwa hanya Akal-lah yang tidak bakal mati (immortal), sedangkan wujud lainnya hanyalah "bentuk" luar, sehingga tidak mungkin mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles juga menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme deity) ialah Akal yang selalu merenung dan berpikir tentang dirinya. Kegiatan kognitif akal itu berbeda dari kegiatan inderawi, karena obyeknya, yaitu wujud akal yang immaterial, adalah identik dengan tindakan akal untuk menjangkau wujud itu.


BAB III
PENUTUP
III.A Penutup
Demikian makalah tentang Filsafat Plotinus yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
III.B Kesimpulan
Plotinus mendasarkan ajarannya kepada yang baik yang meliputi segala – galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada yang satu. Yang satu adalah pangkal segala – galanya. Dan ia menganut filsafat Plato. Oleh sebab itu, filosofinya disebut pula dengan Neoplatonisme. Neoplatonisme yang mengandung unsur kesan tentang ajaran Tauhid.



Daftar Pustaka
1. Susendi Hendi,2008. Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi, Pustaka Setia. Bandung
2. Tafsir Ahmad,1990. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. PT Remaja Rosdakarya. Bandung
3. Wikipedia.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Karya Anak Bangsa Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template